Economica Sites

Beranda » Uncategorized » Artikel » Kado Milad 104 Tahun Muhammadiyah

Kado Milad 104 Tahun Muhammadiyah

Oleh: Mukhaer Pakkanna

Muhammadiyah lahir 104 tahun yang lalu, tepatnya 8 Zulhijjah 1330 H atau 18 November 1912. Menyetir keterangan Kiai Syudja, murid Kiai Ahmad Dahlan, bahwa ide inti pendirian Muhammadiyah merujuk pada QS. Al Anfal; 24, `Wahai orang-orang beriman, sambutlah panggilan Allah dan Rasul-Nya apabila kamu telah dipanggil kepada apa yang dapat menghidupkan kamu …`.
Apa makna diktum dari pesan ayat tersebut? Kiai Dahlan menafsirkan, Islam sebagai agama rahmat lil `alamin bukan sekadar agama pemuas spritualitas, bukan sebagai kumpulan ajaran ritual, tapi Islam adalah agama amalan, agama praxis. Karena itu, Islam harus kompatibel dengan modernitas. Islam harus aktual dalam proses perubahan. Dengan demikian, ajaran Islam menurut Muhammadiyah harus senantiasa ditafsir ulang sesuai perubahan.

Pola berpikir Dahlan, Islam harus ditafsir dalam konteks praktis, tapi ia harus memiliki implikasi jauh ke depan. Karena itu, Dahlan sesungguhnya berani melakukan pembumian ajaran Islam dalam konteks sosio-historis. Cara pandang demikian menunjukkan, Dahlan melakukan sekularisasi plus institusionalisasi ajaran Islam. Konon, Kiai Dahlan dalam membahas dan mengkaji surah Al Ma`un ayat 1-7 hingga 50 kali. Salah seorang jamaah beliau memprotes, kenapa Kiai berulang kali membahas hingga jamaah menjadi bosan. Kata Kiai Dahlan, kita tidak akan membahas ayat lain jikalau kita (jamaah) belum melakukan tindakan aksi. 

Aksi pembumian ajaran Islam yang dilakukan Dahlan, tidak sebatas pada persoalan tindakan nyata. Tapi beliau juga membuat framework yang terinstitusionalisasi secara sistematis, terprogram dan terukur. Manajemen institusi pun digerakan secara modern, bahkan mengikuti pola-pola Barat. Tidak mengheranka jika pelbagai amal usaha yang didirikan Dahlan segera menjamur. 
Menuju Rahmatan lil `alamin 

Makna sekularisasi adalah pembumian (secularization). Konsekuensinya, perlu dilakukan desakralisasi, yakni upaya mentransformasikan hal-hal yang tabu dan sakral dari obyek-obyek yang mestinya tidak tabu dan tidak sakral menjadi hal-hal yang empirik dan operasional. Hal yang normatif dan konseptual menjadi hal yang konkret dan aktual. Dalam bahasa Cak Nur, sekularisasi dalam sosiologi mengandung arti pembebasan (liberasi). Hal ini merupakan konsekuensi dari Tauhid.

Dengan demikian, pembumian ajaran Islam berorientasi pada sofistikasi (sophisticated). Dalam konteks ini, ajaran Islam dalam al Qur`an tidak saja berhenti pada kisaran konsepsional, apalagi pada kisaran sakralitas, tapi ia harus beroperasi dalam tataran praksis universal (rahmatan lil ’alamin). Operasionalisasi ajaran Islam dalam konteks sosio-historis-kultural hanya bisa dilakukan jika umat mampu menangkap roh universalisme dan kosmopolitanisme Islam.

Muhammadiyah hadir di tengah masyarakat Indonesia yang sangat terbelakang dan miskin di awal abad 20. Keterbelakangan dan kemiskinan ini semakin diperparah oleh imprealisme dan kolonialisme asing serta komparadornya, yang terus menerus menghisap kekayaan alam Indonesia. Sumber-sumber produksi masyarakat yang potensial ditelan kaum imprealis. Masyarakat Indonesia hanya memperoleh ampas kekayaan alam. Konsekuensinya, tingkat pendidikan masyarakat sangat rendah. Hanya 1,8 persen masyarakat Indonesia yang mencicipi pendidikan. 

Bertalian dengan itu, tingkat pemahaman keagamaan masyarakat sangat primitif dan lebih banyak berorientasi mitos (Kuntowijoyo, 1992). Dalam kondisi kompleksitas persoalan dan psikologi umat Islam yang sangat terbelakang, sekularisasi yang digerakkan Kiai Dahlan pada zaman itu tentu menemui kendala yang luar biasa. 

Ada dua kendala, pertama, kendala internal, berkaitan dengan serangan terhadap kaum tradisional yang menggugah kemapanan keberagamaan mereka yang sarat dengan mitos. Malah, pada banyak hal, Muhammadiyah sudah dianggap kafir karena telah meniru pola laku dan gaya hidup Barat. 

Kedua, kendala eksternal terutama berkaitan dengan kaum imprealis. Kendati Muhammadiyah pada beberapa sisi telah meniru pola Barat dalam ihwal metode pendidikan dan pengajaran serta pemberdayaan masyarakat, imprealis sesungguhnya merasa terusik. Menurut Van der Plas, seorang ahli Islam Belanda yang pernah melakukan riset ke masjid-masjid di beberapa daerah pada saat itu, sangat mafhum karena mengetahui umat Islam yang membaca al-Qur`an di masjid-masjid kurang mengetahui isinya. Kondisi seperti ini tentu sangat menguntungkan imprealis, karena itu perlu dibiarkan saja. Keberadaan Muhammadiyah di tengah masyarakat telah membuat imprealis semakin khawatir. Karena mereka paham bahwa jika al-Qur`an dibaca dan ditafsirkan secara empirikal dan sophisticated akan menjadi psycological striking force, sehingga umat Islam semakin sadar dan bangkit melakukan perlawanan. Dalam kondisi seperti itu, imprealis kerapkali melakukan siasat politik divide et impera antara kaum tradisionalis dengan Muhammadiyah.    

Kendala di atas oleh Dahlan, setidaknya dapat diatasi dengan menunjukan kemandirian dan kewibawaan warga Muhammadiyah dalam berdakwah. Pada awal berdirinya, the founding fathers Muhammadiyah berasal dari para saudagar (entrepreneur). Kiai Dahlan sendiri adalah pedagang batik dan kerap berdagang di berbagai kota di Jawa. Dalam perjalanan dagangnya, Kiai Dahlan selalu bersilaturahim kepada para alim setempat, membicarakan perkembangan Islam dan masyarakat. Selain itu, fakta sejarah juga berbicara, banyak warga Muhammadiyah berprofesi sebagai saudagar. Warga Muhammadiyah di Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Pekajangan, Karangkanjen, hingga beberapa wilayah Jawa Barat dan Sumatera Barat adalah aktivs Muhammadiyah sekaligus saudagar di daerahnya. 

Kemandirian seperti itu semakin meneguhkan Muhammadiyah dalam berdakwah dan dalam melebarkan amal usahanya. Amal-amal usaha seperti lembaga pendidikan, panti asuhan, PKO, dan lembaga sosial lainnya sangat mandiri dan sulit dikooptasi kepentingan imprealis. Tidak mengherankan jika amal usaha Muhammadiyah membanjir di mana-mana.
Redefinisi Ajaran

Untuk mengembalikan elan vital gerakan sosial Muhammadiyah, diperlukan Dahlan-Dahlan baru yang memiliki visi tajdid dan keberanian melakukan pembumian dan sofistikasi yang terlembaga. Hanya persoalannya, warga Muhammadiyah dalam beberapa dasawarsa terakhir ini mulai kehilangan ghirah tadjid, kehilangan kemandirian dan kewibawaan. Hal ini disinyalir karena keinginan untuk terus  dikooptasi oleh negara. Alih-alih, kegiatan amal usaha Muhammadiyah tidak bisa digelar jika tidak ada fasilitas dari negara. Lihat misalnya, kegiatan Muktamar, Musywil, Musyda, dan lainnya. Demikian juga, kegiatan amal usaha sulit bergerak tanpa bantuan negara. Bahkan amal-amal usaha yang ada sekarang hanya merupakan duplikasi sehingga tidak ada kreatifitas yang genuine. Konsekuensi dalam jangka panjang, Muhammadiyah menjadi organisasi ”pengemis” karena setiap langkah kelembagaannya akan kerap menengadahkan tangannya mencari sumbangan.  

Dalam spektrum tadjid, Muhammadiyah sudah jauh tertinggal dibanding beberapa lembaga sosial keagamaan. Wawasan keagamaan dan kemanusiaan warga Muhammadiyah selain kering, juga hampa perspektif. Kurang memiliki keberanian intelektual melakukan sofistikasi tafsir ajaran agama. Sehingga yang muncul adalah nostalgia dan duplikasi. Yang lebih parah lagi, orientasi kader-kader muda Muhammadiyah memiliki tensi libido politik praktis yang kental untuk berkuasa. 

 Pagedangan, 18/11/16


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: