Economica Sites

Beranda » Uncategorized » Artikel » UBC, Saatnya “Move On”

UBC, Saatnya “Move On”

image

Pada 15 Februari 2016 saya membaca sebuah laporan yang ditulis di Harian Fajar dengan judul yang membuat saya tiba-tiba terinspirasi. “Rp 13 M untuk Wirausaha Baru”, begitu judul berita dibaca. Dalam tulisan tersebut disebutkan penuturan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Sulsel, Syamsul Alam Ibrahim yang menyatakan anggaran tersebut difokuskan untuk program pelatihan. Rp 13 m untuk melatih wirausaha baru dan/Rp 3,5 m untuk pelatihan pengelola koperasi. Program Wirausaha baru ini direncanakan berbasis desa dengan target ada penambahan jumlah wirausaha baru sekira 3000 tiap tahun.

Inspirasi dari tulisan itulah yang membuat saya tiba-tiba ingat UBC – Unismuh Business Centre -, Mengapa judul itu yang saya pilih?. Alasan objektifnya tentu saja karena ini peluang bagi UBC untuk mengambil peran di dalamnya. Sedangkan alasan subjektifnya, berharap jika UBC mengambil peran tentu saya dan kawan-kawan yang lain bisa terlibat menyalurkan ilmu yang sudah diberikan melalui workshop SEDS #1 sampai #5.

Dengan sangat sadar, saya memiliki cara pandang bahwa UBC ibarat sebuah wadah yang tidak hanya akan berkreasi memanfaatkan potensi bisnis dan jasa layanan di internal kampus, dan atau sekedar mengelola unit-unit bisnis milik Unismuh semata, tetapi berpotensi besar memanfaatkan jejaring dan peluang yang bersumber dari lingkungan eksternal kampus.

UBC, ide awalnya memang dipersiapkan untuk memgendors lahirnya wirausahawan muda di dalam kampus di samping juga sebagai payung utama pengelolaan unit-unit bisnis yang sudah dan yang akan dijalankan oleh Unismuh. Namun, sumber daya yang dimiliki UBC khususnya teman-teman yang sudah dibekali pengetahuan dan keterampilan oleh SEDS Project bisa dimanfaatkan untuk diversifikasi layanan ke eksternal kampus.

Manfaatkan Peluang

Sejatinya, UBC selama keberadaanya telah melakukan fungsinya dengan cukup baik, terutama memberikan layanan bisnis yang ada dalam rentang kendalinya, namun kelihatannya masih sangat terbatas pada bidang jasa penyewaan ruangan dan sewa kamar hotel atau sebut saja penginapan di lantai paling atas gedung iqra. Olehnya, “Saatnya UBC move on”, bergerak lebih maju manfaatkan peluang yang ada di lingkungan eksternal kampus.

Nama besar Unismuh menjadi modal utama utama untuk bisa menjual layanan ditambah jejaring Muhammadiyah dan alumni di tiap daerah memungkinkan berterimanya layanan jasa yang ditawarkan. Salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan adalah jasa layanan diklat, bimtek, coaching and mentoring, dan pendampingan. Dari kutipan harian fajar seperti saya sebutkan di bagian awal tulisan ini, nampak dengan jelas bahwa pemerintah sangat serius untuk mendorong tumbuhnya wirausahawan muda di daerah-daerah, dibuktikan dengan besaran dana yang dikucurkan untuk itu. Itu baru dari satu instansi, belum lagi dana-dana bergulir, kredit UMKM yang semuanya ditujukan untuk membangkitkan ekonomi produktif di daerah. Besaran dana dan keberpihakan program untuk pelaku-pelaku UKM dan rintisan bisnis baru tentu saja membutuhkan pengelolaan Sumber Daya yang semakin baik, sementara di sisi lain, ada fenomena sering gagalnya program diakibatkan oleh lemahnya pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola bisnis UKM khususnya pada kelompok-kelompok usaha yang dibentuk “dadakan” karena bukan berorientasi bisnis murni tetapi lebih sering karena memanfaatka peluang adanya dana murah yang disiapkan pemerintah.

Kenyataan seperti inilah yang bisa menjadi “pintu masuk” paling prospektif bagi UBC untuk hadir memberi solusi kepada pemerintah dan masyarakat. UBC, dengan sumber daya dan kekuatan yang dimilikinya bisa hadir untuk mencerahkan dengan orientasi “bersayap”, kegiatan tri dharma berjalan, profit bertambah, dan dakwah pencerahan dalam konteks “teologi al-maaun” juga berkembang termasuk bisa menjadi laboratorium pembelajaran praktikal bagi mahasiswa-mahasiswa Unismuh untuk praktik wirausaha.

Memang membangun kemungkinan memanfaatkan peluang ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi saya yakin hal ini tidak juga serumit mengurai benang kusut. Dengan dilengkapinya struktur UBC, kita optimis tim yang dibentuk nanti mampu menciptakan “branding” yang menjual bagi UBC sekaligus menempatkan UBC sebagai pionir utama sumber pendanaan baru bagi Universitas dan wadah persemaian bibit-bibit wirausahawan muda dari kalangan mahasiswa. Semoga !

%d blogger menyukai ini: