Economica Sites

Beranda » Uncategorized » Artikel » Relasi “Jamur” dengan Inflasi

Relasi “Jamur” dengan Inflasi

Tahukah anda dengan Jamur ?. Jamur atau cendawan adalah sejenis tumbuhan yagng tidak mempunyai klorofil atau zat hijau daun. Tumbuhan ini biasanya tumbuh saat musim penghujan. Cara hidup tumbuhan ini bersifat simbiosis mutualisme, dalam arti hidup saling menguntungkan karena disamping menyerap makanan dari tanaman lain, juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi zimbionnya. Sementara Inflasi yang umum kita ketahui adalah suatu kondisi dimana harga-harga umum meningkat secara terus menerus dalam jangka panjang. Saya tidak akan memgulasnya dengan pendekatan statistical yang njlimet, tapi tulisan ini sesungguhnya sebuah analogi sederhana yang bisa diterima serius ataupun sekedar candaan semata.

Lalu, apa kaitannya Jamur dengan Inflasi?.  Jamur yang saya posisikan sebagai variabel independen —meminjam istilah dalam regresi— bukanlah jamur seperti didefinisikan sebelumnya tetapi “Jamur” dalam tulisan ini meminjam istilah teman adalah akronim dari “Janda di bawah Umur”, he he he nah loh, ketahuan kan kemana arah tulisan ini. Akronim ini muncul dari obrolan datar disertai candaan seorang teman yang memang senang humor. Namun, terlepas dari itu sesungguhnya jika ditelisik lebih dalam, tampaknya memang ada sih, relasi antara “Jamur” dengan Inflasi, walaupun inflasinya bersifat lokal, personal, tidak bersifat umum, dan kadang temporal.

Secara teoritis, inflasi dapat dipicu oleh beberapa hal, salah satunya adalah adanya dorongan permintaan (demand push factor). Bukankah, “Jamur” ini adalah sesuatu yang fenomenal di kalangan orang-orang “tertentu” yang memang senang (baca: penikmat). Entah karena kebutuhan atau karena hobby, tapi apapun itu, pasti akan mendorong meningkatnya permintaan terutama dari sisi besaran pengeluaran seseorang apalagi yang doyan dengan makhluk jenis ini adalah (umumnya) orang yang sudah berkeluarga. Formulasi pengeluaran seseorang berpotensi meningkat setengah bahkan satu kali lipat dibanding sebelumnya jika mengkonsumsi “Jamur” karena harganya yang memang naik seiring meningkatnya permintaan pasar.

Secara iseng saya mencoba melakukan penelusuran di google menggunakan kata kunci “janda di bawah umur”, hasilnya menakjubkan. Ternyata google berhasil mengidentifikasi Sekitar 92.300 hasil dalam 0,45 detik. Ini berarti fenomena “Jamur” bukanlah barang baru tetapi ternyata berhasil mengalahkan beberapa istilah atau akronim yang lebih dahulu muncul seperti “cabe-cabean” untuk istilah ABG yang menjajakan jualan daging di pasar-pasar tertentu. Menariknya dua istilah ini memang merupakan sejenis tumbuhan yang banyak penggemarnya, bahkan untuk jenis Cabe sendiri seringkali memberi gejolak harga di pasar Indonesia.

Baik, kita telah memberikan definisi “inflasi” sebagai semata-mata suatu gejala ekonomi, yaitu sebagai kecenderungan harga-harga untuk naik. Sampai batas tertentu kita masih bisa menganalisa sebab-sebab timbulnya inflasi khusus dari segi ekonomi; dan penentuan sebab-sebab “ekonomis obyektif” ini mungkin bukanlah tugas yang paling sukar. Dalam praktek, untuk mengetahui sebab-musabab timbulnya inflasi (terutama inflasi yang kronis atau yang telah berjalan lama) dan merumuskan dan kemudian melaksanakan kebijaksanaan untuk menangulanginya, adalah masalah yang sulit dan pelik. Biasanya kita harus melampaui batas-batas ilmu ekonomi dan memasuki bidang ilmu sosiologi dan ilmu politik. Masalah inflasi dalam arti yang lebih luas bukan semata-mata ilmu ekonomi, tetapi masalah sosio-ekonomi-politis.

Ilmu ekonomi membantu kita untuk mengidentifikasi sebab-sebab “obyektif” dari inflasi, misalnya saja karena pemerintah mencetak uang terlalu banyak. Kalau kita mempertanyakan mengapa pemerintah terus mencetak uang, meskipun mereka tahu bahwa tindakan tersebut megakibatkan inflasi, maka seringkali jawabannya terletak di bidang sosil politik, misalnya karena pemerintah membutuhkan uang untuk operasi keamanan atau karena adanya pertarungan politik diantara golongan-golongan politik di dalam negeri, atau karena pemerintah tak berdaya menghadapi tuntutan politik golongan-golongan masyarakat tertentu yang menghendaki “bagian” dari anggaran belanja Negara yang lebih banyak dari apa yang bisa disediakan dari sumber-sumber penerimaan negara, atau karena adanya desakan-desakan golongan masyarakat tertentu untuk memperoleh kredit rumah sehingga jumlah kredit yang harus disediakan melebihi jumlah yang bisa menjamin kestabilan harga. Untuk bisa menghentikan pertambhan uang yang beredar berlebihan, dalam contoh ini perlu dicapai penyelesaian politis lebih dulu.

Nah dari sisi sosiologis, inflasi tentu saja dapat dipicu oleh perilaku masyarakat dalam berkonsumsi, yang tidak semata untuk motif ekonomi tetapi lebih ke efek psikologis. Itulah sebabnya sehingga saya menulis judul ini dengan mengambil fenomena Jamur kaitannya dengan inflasi. Karena jamur dalam pengertian dalam tulisan ini adalah pemicu dari sisi sosial yang berkaitan dengan perilaku sebagaian anggota masyarakat dalam berkonsumsi. Bukankan sudah banyak dipahami bahwa akibat hobby atau kecenderungan seseorang [mengkonsumsi] “Jamur” akan memicu naiknya pengeluaran atau hasrat berkonsumsi secara signifikan sehingga efek langsungnya pasti akan memicu naiknya permintaan terhadap suatu barang, khususnya barang-barang atau produk-produk yang masuk kategori barang tersier atau paling tidak termasuk kategori barang sekunder. Oleh karena faktor inilah sehingga kenaikan harga dipicu, walaupun bukanlah sebagai pemicu utama tetapi tentu ada relasi antara hasrat mengkonsumsi “Jamur” dengan Inflasi. Lalu apakah itu signifikan atau tidak?, butuh penelitian secara lebih mendalam, Siapa yang siap jadi responden?.. Semoga bukan anda.. He he he… [@DaenkMail]

%d blogger menyukai ini: